Home » , » Metode Penemuan (Discovery Methods)

Metode Penemuan (Discovery Methods)

Posted by Kumpulan Catatan Nana Misnara on Selasa, 24 Februari 2015

Postingan kali ini masih membahas tentang metode mengajar yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas. Metode yang dimaksud adalah metode penemuan (discovery methods).
Ada beberapa konsep tentang metode penemuan (discovery methods) yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain:
  1. Metode discovery adalah metode yang menganggap siswa sebagai subyek sekaligus obyek pembelajaran yang memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya (Rohani, 2004).
  2. Metode discovery merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung siswa dan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar (Mulyasa, 2005) .
  3. Sund (dalam Suryosubroto, 2002) mengemukakan bahwa metode discovery adalah proses mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya, dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Metode discovery diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.
  4. Metode discovery adalah metode mengajar yang menggunakan teknik penemuan dan merupakan proses mental (misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya) dimana siswa menyesuaikan suatu konsep atau prinsip. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi (Roestiyah, 2001).
Tahap-tahap yang harus ditempuh dalam metode discovery, yaitu:
A. Menurut Rohani (2004:39)
  1. Perumusan masalah untuk dipecahkan oleh siswa;
  2. Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis;
  3. Siswa mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis;
  4. Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi;
  5. Aplikasi kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru.
B. Menurut Mulyasa (2005:110)
  1. Adanya masalah yang akan dipecahkan;
  2. Masalah sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa;
  3. Mengemukakan dan menulis secara jelas konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh siswa melalui kegiatan tersebut ;
  4. Tersedianya alat dan bahan yang diperlukan;
  5. Susunan kelas diatur sedemian rupa sehingga memudahkan siswa berfikir bebas dalam kegiatan pembelajaran;
  6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan data;
  7. Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dengan data serta informasi yang diperlukan siswa.
Langkah-langkah pelaksanaan metode discovery:
A. Menurut Gilstrap (dalam Suryosubroto, 2002)
  1. Mengamati/menilai kebutuhan dan minat siswa untuk digunakan sebagai dasar dalam menentukan tujuan yang nyata;
  2. Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajari;
  3. Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa;
  4. Berkomunikasi dengan siswa untuk membantu menjelaskan peranan penemuan;
  5. Menyiapkan suatu situasi yang mengandung masalah untuk dipecahkan;
  6. Mengecek pengertian siswa tentang masalah untuk merangsang minat belajarnya;
  7. Menyediakan berbagai alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran;
  8. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan dan bekerja dengan data;
  9. Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri;
  10. Memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri;
  11. Memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya dan diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya;
  12. Memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses;
  13. Mengajarkan ketrampilan untuk belajar dengan penemuan yang diidentifikasi oleh kebutuhan siswa;
  14. Merangsang interaksi siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul;
  15. Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat yang sederhana;
  16. Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandangan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar;
  17. Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alasan dan fakta;
  18. Memuji siswa yang giat dalam proses penemuan, misalnya siswa yang bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri;
  19. Membantu siswa menulis atau merumuskan prinsip, aturan ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan;
  20. Mengecek apakah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi berikutnya, yaitu situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya.
B. Menurut Richard Scuhman (dalam Suryosubroto,2002:199)
  1. Identifikasi kebutuhan siswa;
  2. Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari;
  3. Seleksi bahan, dan problema serta tugas-tugas;
  4. Membantu memperjelas problema yang akan dipelajari dan peranan masing-masing siswa;
  5. Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan;
  6. Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas siswa;
  7. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan;
  8. Membantu siswa dengan informasi, data, jika diperlukan oleh siswa;
  9. Memimpin analisis sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses;
  10. Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa;
  11. Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan;
  12. Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya.
Keunggulan dan kelemahan metode discovery menurut Suryosubroto (2002):
A. Keunggulan metode discovery
  1. Membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa;
  2. Pengetahuan diperoleh sifatnya sangat pribadi dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer;
  3. Membangkitkan gairah pada siswa;
  4. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri;
  5. Siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus;
  6. Membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan;
  7. Memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan;
  8. Membantu perkembangan siswa untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
B. Kelemahan metode discovery
  1. Penemuan akan dimonopoli oleh siswa yang lebih pandai dan menimbulkan perasaan frustasi pada siswa yang kurang pandai;
  2. Kurang sesuai untuk kelas dengan jumlah siswa yang banyak.
  3. Memerlukan waktu yang relatif banyak;
  4. Karena biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional, hasil pembelajaran dengan metode ini selalu mengecewakan;
  5. Kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan karena yang lebih diutakan adalah pengertian;
  6. Fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, kemungkinan tidak ada;
  7. Tidak memberi kesempatan untuk berpikir kreatif dan tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti.
Rujukan: martiningsih-online


0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Entri Populer

Mengenai Saya

Foto saya
Majalengka, Jawa Barat, Indonesia
.comment-content a {display: none;}